DEFENISI TEOLOGI
Istilah “teologia” memang tidak mudah di
definisikan. Sekalipun jelas bahwa teologia merupakan kombinasi dari dua kata
Yunani “theos” (Allah) dan “logos” (kata, pemikiran, uraian, ilmu), namun
istilah tersebut telah dipergunakan secara luas. Kadang-kadang kata ini
dimengerti sebagai istilah yang menggambarkan lingkup seluruh pokok studi,
penelitian, dan aplikasi dalam pendidikan atau sekolah teologi. Apabila
dimengerti secara lembih sempit, maka “teologia” menunjuk pada usaha untuk
meneliti iman Kristen dari aspek doktrinnya[1].
Jadi, teologia adalah suatu pembicaraan
secara rasional tentang Allah dan pekerjaan-Nya. Dalam hal ini, teologia
kisten” berarti bahwa pembicaraan yang rasional itu merupakan hasil yang
diperoleh dari Alkitab sebagai titik tolak penemuan yang sine qua non dan prima facia.
Dari sudut lain, teologia juga menunjuk pada respons manusia terhadap firman
yang disampaikan Allah melalui Alkitab. Tekanan yang selamanya tidak boleh
berubah dilihat dari sudut mana pun ialah bahwa Allah dan pekerjaan-Nya yang
hendak dikenal adalah Allah seperti yang disaksikan oleh Alkitab.
Demikian pula “teologia Kristen” yang
dimaksudkan di atas berbeda dengan pengertian para penulis Kristen abad kedua
dan ketiga yang memakai istilah “theologia” sebagai karunia untuk melihat ke
dalam hakekat Allah. Ini berarti teologia menjadi berkonotasi mistik sebab
dengan demikian teologia lebih menekankan pada meditasi dan perenungan
ketimbang pada rasionalitas. Teologia apofatik yang sampai hari ini masih
dianut oleh gereja-gereja Ortodox Timur merupakan kelanjutan dari pandangan
tersebut.
HAKEKAT TEOLOGIA
A. Definisi
Teologi
Seorang teolog orthodox dari Princeton,
teologi adalah “Ilmu yang membicarakan tentang Allah dan alam semesta”. Dengan
penegasan bahwa teologi bahwa teologi adalah suatu ilmu, ia hendak menekankan
fakta bahwa Allah itu ada, dan bahwa Allah yang berada itu berhubungan dengan
ciptaan-Nya. Sebab seandainya tidak ada Allah yang berada itu tidak berhubungan
dengan ciptaan-Nya, teologia juga tidak pernah ada.[2]
Sedangkan Shedd, “Teologi adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan yang tak
terbatas dan yang terbatas, dengan Allah dan alam semesta”.[3]
Dengan pengertian ini, selain manusia dan alam yang menjadi objek penelitian,
teologi terutama berupaya mengetahui tentang Allah.
Berbeda dengan pemahan kaum Liberal, teologi
adalah “interpretasi metodikal dari materi pokok iman Kristen. Dengan
pengertian ini, Tilich menganggap istilah “Allah” tidaklah terlalu penting
karena “Allah” adalah sebuah symbol yang diperoleh dari kesadaran religious.
“Allah” bukan sesosok Pribadi Yang Ada; Ia adalah Yang Ada itu sendiri (being
itself, not a being). Jadi, “Allah” itu melingkupi segala sesuatu dan Ia berada
di dalam segala sesuatu. Karena “Allah” melampui dan di luar dari esensi dan
eksistensi, maka segala usaha untuk membuktikan eksistensi”Allah” tidak dapat
diterima. Bagi Tilich, masalah eksistensi “Allah” tidak dapat dipertanyakan
atau dijawab. Oleh sebab itulah, bagi Tilich hanya ada satu titik mula
berteologia yang sah, yakni dimulai dari manusia dan pengalaman manusia atas
realita.[4]
Defenisi dari pemahaman Liberal
mengandung kelemahan, karena dengan demikian teologia menjadi independen atau
tercerai dari Alkitab. Teologi seharusnya berkenaan dengan Allah dan
ciptaan-Nya seperti yang dimengerti dari Akitab. Sebab itu, definisi teologi
yang benar adalah sebagai berikut: teologi adalah pengetahuan yang sistematis
tentang Allah dan hubungannya dengan ciptaan-Nya seperti yang dipaparkan dalam
Alkitab. Teologi Kristen bukan hanya melulu mendalami Alitab, tetapi juga
bertanggung jawab untuk mendalami dan mengerti setiap bagian penerapannya, serta
mengerti cara-cara pelaksanaan supaya penerapan tersebut dapat terjadi.
B. Sumber-sumber
Teologi
Teologi yang sehat pertama-tama sekali
harus mengacu pada Alkitab sebagai sumber untuk mendapatkan “bahan mentahnya”.
Singkatnya, dalam berteologi, Alkitab merupakan suatu keharusan untuk diteliti,
tetapi bukan merupakan “barang” yang sudah jadi. Apabila dikatakan bahwa
Alkitab merupakan keharusan, itu berarti bahwa apa yang dikatakan oleh
seseorang tentang Allah dan menusia dalam berteologi haruslah sinkron dengan
ajaran Alkitab.
Sumber teologi selanjutnya adalah melihat
kepada semua “barang” yang sudah jadi, misalnya dengan mempelajari apa yang
sudah dihasilkan di dalam teologi biblika, teologi historika, dan teologi
filosofika. Teologi biblika adalah menelusuri perkembangan suatu tema tertentu
(misalnya, perjanjian) akan menyajikan meteri yang luas dari Alkitab secara
progresif.[5]
Teologi historika adalah memberikan kontribusi dengan memperlihatkan berbagai
cara penafsiran Alkitab yang pernah dilakukan gereja atau teolog di masa yang
lampau. Sedangkan, teologi filosofika adalah membantu untuk merelevankan
pemikiran teologis dengan cara kritis memaparkan isi teologi kepada dunia
kontemporer.
Selain itu, tradisi gereja dapat menjadi
sember teologi (pengajaran atau kebiasaan tertentu). Yang dimaksud dengan
tradisi adalah penafsiran yang otoritatif tentang suatu bagian Alkitab yang
diwariskan turun-temurun. Namun tradisi juga mengandung bahaya, yaitu apabila
penafsiran Alkitab itu melampaui apa yang diajarkan Alkitab, dan sering tradisi
juga dapat dijunjung tinggi melebihi wibawa Alkitab. Adalah tugas teologi untuk
mempertimbangkan tradisi di bawah terang firman Tuhan dan mengembangkannya
sesuai dengan suasana tiap zaman.
C. Pentingnya
teologi yang bersistem
Seseorang tidak dapat mengenal wahyu
Allah seutuhnya seperti yang dinyatakan di dalam Alkitab, apabila keseluruhan
isi Alkitab itu tidak dipelajari sebagai suatu system secara keseluruhan.
Mengetahui wahyu tersebut sebagian atau beberapa bagian saja tanpa membawa
bagian-bagian tersebut ke dalam relasi dengan bagian totalitasnya, tidak
menjamin bahwa wahyu itu akan dikenal seutuhnya. Jadi, dengan pikiran yang
dikaruniai Allah, orang Kristen harus berpikir secara sistematis, dan
menjabarkan isi wahyu Allah itu secara sistematis pula.[6]
Karl Barth berpendapat bahwa dengan
pemakaian istilah sistem di dalam teologia, manusia sebetulnya mengabaikan
fakta bahwa pikiran konseptual dan bahasa manusia itu sebenarnya terbatas. Dari
satu segi boleh dikatakan bahwa setiap pengertian manusia tentang kebenaran
Allah itu bersyarat. Teologi harus berada di bawah “penghakiman” Alkitab serta
harus terbuka untuk berkembang melihat situasi konteks di mana teologia itu
diajarkan. Untuk memahami komunikasi yang berarti dari Allah, manusia perlu
mempergunakan rasionalitasnya dalam batas-batas tertentu. Yang dimaksud di sini
adalah bahwa teologi itu rasional.[7]
Tambahan lagi, dunia sekarang ini
membutuhkan kebenaran untuk menjawab segala permasalahan yang melanda
kehidupan. Teologi wajib membawa kebenaran Allah ke dalam dunia dan teologi
dengan sendirinya akan mempengaruhi pola kehidupan manusia karena pikiran atau
ide itu akan mempengaruhi kehidupan. Kekristenan perlu memikirkan bagaimana
menyajikan kebenaran kepada dunia dalam perbuatan atau praktek yang nyata.
D. Hubungan
antara Teologia dan disiplin lain
Mengenai hubungan teologia dengan
disiplin lainnya sudah kerap kali timbul di dalam sejarah teologia. Yang paling
dominan dibicarakan adalah hubungan antara teologia dengan filsafat.[8]
Dalam sejarah gereja, Tertullian pernah mempertanyakan hubungan antara iman dan
rasio, intinya Tertullian menolak rasio dihubungkan atau dikawinkan dengan iman
Kristen.[9]
Apabila dibuat asumsi bahwa setiap
kebenaran berasal dari Allah, maka kebenaran filsafat dan kebenaran teologia
tidak akan bertentangan satu sama lain. Dalam prosedur pemikiran maupun proses
penalaran, keduanya mempergunakan rasio; keduanya pun dapat melulu mengandalkan
rasio dan menjadi rasionalistik. Memang ada perbedaan titik tolak antara
teologia (yang mulai dengan wahyu Allah) dan filsafat (yang lebih sering
mempertanyakan eksistensi Allah), namun keduanya pun banyak kesamaan dalam
memaparkan masalah-masalah, misalnya tentang kebenaran, Allah, dunia dan
manusia. Baik teologia maupun filsafat sama-sama merupakan disiplin yang
mengandung rasionalitas.
Jadi, baik teologi maupun disiplin lain
sama-sama mengandung kebenaran umum yang terbuka untuk bertemu pada titik “general reasonableness” (akal sehat
yang diterima orang banyak). Dengan perkataan lain, teologi tidak perlu
berlindung dalam benteng subjektivitas karena takut “tercemar”, sebab
keterkaitan antara teologi dan disiplin lain (khusunya filsafat) memiliki
fungsi saling melengkapi sehingga konsistensi teologi tetap terjaga. Sampai di
sini terlihat bahwa, baik teologi maupun filsafat tidak saling bertentangan keduanya
sangat penting dan saling melengkapi dalam proses penelitiannya.
METODE
BERTEOLOGI
Berbicara tentang metode teologi berarti
berkaitan dengan pembicaraan tentang sesuatu yang normatif (atau tidak) di
dalam teologi. Kalangan injili, termasuk Lutheran dan sebagian pentakosta,
umumnya menerima Alkitab sebagai satu-satunya patokan normatif yang mempunyai
wewenang tertinggi bagi iman dan kehidupan. Di dalamnya terkandung pengertian
bahwa bagi kalangan tersebut yakni Allah telah memberikan ajaran dan konsep
yang cukup melalui Alkitab sebagai patokan normatif bagi pemikiran teologis.
Namun, kalangan Liberal dan Neo-Ortodox
menganggap bahwa simbol-simbol atau mitos-mitos dari Alkitab adalah patokan
normatif bagi teologi Kristen. Karena kaum ini menganggap bahwa symbol atau
mitos merupakan ekspresi dari pengalaman kehadiran Allah yang tidak dapat
diterangkan atau didefinisikan, dan itu terjadi dalam dimensi religius dari
setiap orang yang pengalamannya sangat pribadi serta subjektif. Tugas teologia
yang memang wajib memaparkan dan menjelaskan iman Kristen sebagai suatu tugas
internal; dan tugas itu juga mencakup usaha menembangkan dan mempertahankan
iman Kristen dari serangan atau ketidakmengertian manusia pada umimnya.
Ada beberapa usulan metode berteologia
yang pernah diberikan baik kalangan teolog injili maupun teolog bukan injili.
A. Metode
teologia Charles Hodge
Bagi Hodge, dalam setiap ilmu terdapat
dua faktor: fakta-fakta dan pikiran. Maksudnya, mempelajari suatu ilmu bukanlah
sekedar menghimpun pengetahuan atau menyusun fakta-fakta saja. Ilmu lebih
daripada itu, karena ilmu harus dapat memperlihatkan relasi internal dari
fakta-fakta. Menurutnya, sebagaimana alam mengandung fakta-fakta yang dapat
diamati oleh ahli biologi atau ahli fisika, demikian pula Alkitab mengandung
kebenaran-kebenaran yang dapat dikumpulkan, disusun, dan diperlihatkan relasi
internalnya satu dengan yang lainnya oleh ahli teologi.[10] Hubungan antara fakta dan Alkitab menurut
Hodge adalah:
ü Fakta-fakta
yang keliru tidak akan dapat diterima ke dalam rasio manusia. Demikian juga
teologi yang bersistem memerlukan pikiran manusia untuk mencerna fakta-fakta
Alkitab dan melihat relasi satu fakta dengan yang lainnya guna melihat
keabsahannya.
ü Pembaca
akan memperoleh suatu jenis pengetahuan yang lebih tinggi tingkatannya daripada
hanyamengumpulkan fakta-fakta
.
ü Fakta-fakta
dari wahyu Allah harus ditempatkan dalam suatu kerangka susunan yang sistematis
dan mempunyai hubungan yang mutual, karena hanya dengan demikian dapat
dipaparkan kebenaran dengan objektif serta menyajikan fakta-fakta tersebut
secara meyakinkan ke dalam pikiran manusia.
Hodge
percaya bahwa semua kebenaran itu konsisten sebab Allah tidak mungkin
berkontradiksi di dalam diri-Nya dan karya-Nya. Maksudnya, apa yang dikatakan
Allah dalam firman-Nya atau dalam perintah-Nya tidak mungkin bertentangan
dengan konstitusi atau kebenaran dari alam ini.
B. Metode
teologia Karl Barth
Karl Barth (1886-1968) adalah seorang
teolog yang besar abad ini. Inspirasi pemikirannya mempunyai pengaruh yang luas
bahkan sampai hari ini. John Baillie menulis bahwa “…tak seorang pun
kelihatannya dapat berbicara tentang teologia dewasa ini tanpa menyebutka
namanya (Barth). Barth mendapatkan ide mengenai Allah yang ada di luar
jangkauan rasio manusia, adapun Barth mengemukakan pernyataan-pernyataan
berikut:
v Manusia
sebagai makhluk yang terbatas tidak akan mampu secara independen dan rasional
mengerti sifat transenden dari Allah melalui wahyu-Nya.
v Barth
menolak adanya wahyu Allah (dan inspirasinya) secara langsung dalam sejarah
manusia sehingga tidaklah heran bahwa Barth pada instansi terakhir juga menolak
konsep wahyu umum (general revelation) serta konsep Alkitab sebagai firman
Allah.
v Teologi
bukan lagi sebuah ilmu, melainkan telah tertransformasikan sedemikian rupa
sehingga menjadi sebuah doktrin tentang iman semata-mata.[11]
Kesulitan
dari metode teologia Barth ini adalah seseorang tidak dapat menguji (baik
secara empiris maupun dengan cara lain) apakah metode ini benar-benar menuntun
seseorang bertemu dengan Allah yang sejati (dan bukan ilah yang lain) di dalam
pertemuan yang incidental itu.
C. Metode
teologia Thomas F. Torrance
Torrance adalah seorang teolog
Presbyterian terkemuka dari Skotlandia dan juga beliau seorang profesor
dogmatika di Universitas Edinburgh. Di dalam ilmu teologi, Torrance memaparkan
bahwa sains bukanlah epistemologi yang terbuka. Epistemologi terbuka itu
sendiri ditentukan oleh objek tertentu yang menjadi sasaran penelitian. Dengan
kata lain, ilmu adalah suatau keterbukaan terhadap objeknya, dan ilmuterbentuk
karena rasio manusia beroperasi terhadap objek penelitiannya.[12] Menurut
Torrance juga bahwa teologi sebetulnya memiliki jenis rasionalitasnya tersendiri
sehingga teologi tidaka perlu mengikuti jalur rasionalitas dari disiplin ilmu
lain.[13]
Dengan demikian, suatu teologia baru dapat disebut objetif dan saintifik dengan
melihat sejauh mana teologi itu sendiri terbuka dan tunduk terhadap objek
penelitiannya. Beberapa masalah epistemologis akan timbul dalam metode teologia
Torrance, antara lain:
Ø Apakah
metode teologia tersebut memiliki interior
logic (logika bagian dalam) yang cocok denga suatu investigasi yang
terbuka. Karena Hubungan antara ilmu
teologi dan ilmu lainnya menjadi kabur dan sulit untuk berinteraksi.[14]
Ø Torrance
hanya mengupayakan untuk mengungkapkan bahwa logika yang ada dalam iman Kristen
menurut pengertiannya sendiri (tentang ilmu dan rasionalitas).
D. Metode
teologia Paul Tillich
Tillich adalah seorang teolog besar dari
Jerman yang kemudian hijrah ke Amerika Serikat pada tahun 1933, dan beliau
mengajar di Union Theological Seminari (New York), Columbia University, Harvard
University dam mulai 1962 di University of Chacigo. Tillich memperkenalkan
suatu metode yaitu “korelasi”. Korelasi ialah bahwa pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan manusia moderndihubungkan sedemikian rupa dengan jawaban-jawaban dari
tradisi Kristen. Namun, bentuk dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban
ditentukan oleh bahasa filsafat, sains, psikologi, dan seni modern; sedangkan
substansi jawaban-jawabannya diambil dari tradisi Kristen.[15]
Di satu pihak, manurutnya, manusia tidak
dapat bergantung pada filsafat naturalistik karena filsafat tersebut tidak
dapat menjawawb-pertanyaan-pertanyaan yang terdalam, filsafat tersebut hanya
akan menemukan jawaban dalam eksistensi natural manusia. Namun di pihak lain,
manusia menurut Tillich harus juga menyingkirkan jawaban yang pernah diberikan
oleh apa yang disebutnya sebagai “tradisi Kristen di dalam sejarah” yang banyak
mengandung unsur supranaturalisme.ciri metode berteologi Tillich, adalah
sebagai berikut:
Teolog Kristen harus memikirkan cara
untuk menciptakan teologia-teologia yang baru untuk dicocokkan ke dalam realita
kontekstualnya masing-masing.
Menekankan pada penggunaaan bahasa
simbolik, dan menolak pemikiraan tentang Allah sebagai pribadi yang literal
atau Allah sebagai oknum roh yang secara literal dapat berhubungan dengan
manusia secara personal dan spiritual.[16]
Atau Allah hanya dapat diuraikan melalui penggunaan kata-kata simbolik secara
sematik sebab Allah bukanlah sebuah benda atau sosok makhluk.
Sedangkan
tentang wahyu, Tillich mendefinisikan bahwa wahyu adalah manifestasi dari
being; dan wahyu terjadi atau terungkap di dalam mitos-mitos dan simbol-simbol
yang melampaui rasio manusia. Mitos itu sendiri adalah bahasa dari keprihatinan
puncak manusia. Pada akhirnya, “Allah” yang dimaksudkan Tillich menjadi “Allah
di atas Allah”. Itulah sebabnya Tillich mempergunakan metode korelasi sebagai
metode untuk berteologi, supaya ia tidak terjerumus ke dalam wilayah iman saja
atau rasio saja.
E. Interpretasi
analitis sebagai metode berteologi
Teologi adalah ilmu tentang Allah,
sedangkan teologia adalah sebuah disiplin yang mengusahakan adanya suatu
pemaparan yang koheren (menyatu, berkaitan, teratur dan logis) tentang
doktrin-doktrin iman Kristen. Landasan dasar untuk berteologi adalah Alkitab,
yang adalah firman Allah. Karena teologi bukan hanya sebuah ilmu yang
bersistematika saja, tetapi juga suatu seni dan dalam berteologia, unsur
interpretasi (penafsiran) terhadap Alkitab memegang peranan yang vital. Juga
karena teologika merupakan suatu respons terhadap pemberitaan Alkitab, maka
teologi harus berhubungan dengan penafsiran. Disebut penafsiran, berarti
berkaitan dengan aturan, prinsip, serta metode pengujian tertentu.
Penafsiran menjadi penting sebab tidak
ada komunikasi, perkataan, atau perbuatan yang dapat lagsung dimengerti.
Seseorang harus menafsirkan menurut konteks latar belakang, tata bahasa,
budaya, dan sebagainya dan bukan langsung mencoba mengerti suatu bagian menurut
cara intuitif mistikal semata-mata. Tentu saja, dalam menafsirkan Alkitab bagi
manusia di zaman sekarang ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Karena ,
selain harus mempelajari situasi pada saat penulisannya, juga harus melihat dan
meneliti situasi sekarang ini. Belum
lagi orang yang menafsirkan Alkitab itu harus melihat dirinya sendiri; seberapa
jauh keterbukaannya terhadap Alkitab, tanpa manipulasinya atau tanpa
menunggangi isinya dengan pikiran atau pengandaian lainnya.
Takanan supaya Alkitab tetap menjadi
patokan yang sah merupakan keharusan, dan ini menyangkut cara penafsiran yang
sehat, yang terbuka, yang setia, dan taat kepada maksud Alkitab, serta
mengertinya menurut apa yang dimaksudkan penulis aslinya. Adapun manfaaat teologi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Menginterpretasikan
(menafsirkan) Alkitab supaya kebutuhan manusia zaman sekarang ini terpenuhi.
2. Teologi
juga bermanfaat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kehidupan manusia di
setiap zaman.
3. Membantu
setiap manusia agar dapat menerapkan Alkitab ke dalam setiap segi kehidupan,
perbuatan, dan pemikiran.
4. Teologi
bermanfaat untuk menerangi kekurangan dan ketidakjelasan pikiran manusia dalam
menanggapi isi Alkitab.
5. Berteologi
juga bukan hanya menafsirkan Alkitab tetapi harus mempelajari dan menafsirkan
lingkungan hidup manusia, situasi atau kondisi permasalahan manusia,
fakta-fakta dari ilmu-ilmu lain (yang berhubungan antara teologi dan ilmu
lain), serta kecenderungan pikiran manusia yang menafsirkan dan menerapkan
teologi.
6. Yang
paling penting dari semuanya adalah berteologi bermanfaat untuk menafsirkan isi
Alkitab dari kitab kejadian hingga kitab wahyu.
7. Menganalisis
apa yang sebenarnya hendak diajarkan Alkitab secara keseluruhan, setiap pasal,
perikop, atau teks,”apa sebenarnya yang dimaksudkan oleh penulis”?
8. Meneliti
latar belakang sejarah, konteks budaya, dan penggunaan tata bahasa tertentu
dari penulis Alkitab.
9. Mengerti
atau memahami, serta dapat menghubungkan dari perjanjian lama ke perjanjian
baru yaitu konsep anologia Sciptura dari Alkitab (Alkitab menjelaskan Alkitab),
contoh: tentang arti dari korban persembahan di perjanjian lama akan semakin
jelas apabila dipelajari dengan melihat ke dalam perjanjian baru.
10. Menemukan
maksud utama (tema central) Alkitab dari kejadian sampai wahyu.[17]
11. Teologi
juga bermanfaat untuk menghindarkan kesesatan. Dengan mengetahui apa yang
diajarkan “seluruh Alkitab” tentang topik tertentu, maka akan membantu untuk
terhindar dari pengertian yang bertentangan dengan Alkitab.
12. Teologi
juga untuk mengajar orang lain tentang apa apa yang dikatakan Alkitab mengenai
topic tertentu, dan perlu juga melakukan pengumpulan atau pengelompokan semua
ayat Alkitab untuk topic tertentu sehingga kemudian terbentuk suatu ringkasan
yang sistematis serta perlu juga melakukan ini karena keterbatasan ingatan dan
waktu yang dimiliki.
MATERI
PENELITIAN TEOLOGIA
Materi penelitian atau objek teologia
adalah apa atau bahan apa yang dipelajari dalam teologia. Dalam kekristenan,
yang menjadi psat perhatian utama ialah apa yang diungkapkan atau dinyatakan
Allah kepada manusia, yang biasa disebut sebagai istilah “wahyu” atau
“penyataan” (revolation). Mengenai wahyu
itu sendiri, menurut aliran Baptis, Reform dan presbiterian beranggapan bahwa
wahyu telah diberikan sekali untuk selamanya, sedangkan golongan pentakosta dan
kharismatik menganggap bahwa wahyu masih diberikan hingga zaman sekarang ini.
Pandangan Kristen menegaskan bahwa
“wahyu” adalah inisiatif Allah dan bukan oleh manusia, karena manusia sebagai
saksi atau penerima wahyu tidaklah mungkin sekaligus menjadi sumber atau
pemrakarsa dari peristiwa penyingkapan itu sendiri. Wahyujuga memiliki hubungan
yang erat dengan iman dan bukan dengan rasio, sebab iman terjadi atau
berinteraksi setelah didayagunakan sehingga mampu memberi respons terhadap
wahyu. Berikut pembahasan tentang materi penelitian teologia:
§ Wahyu
umum
Wahyu umum adalah tindakan Allah
menyatakan diri-Nya melalui alam semesta, sejarah, dan hati nurani, manusia.
Karena wahyu ini hanya menyatakan melalui alam dan hati nurani manusua secara
umum, maka wahyu umum tidak menyelamatkan manusia dan tidak membawa manusia
kepada pengertian dan pengenalan yang penuh tentang Allah. Adapun guna dari
wahyu umum ini adalah:
o
Untuk membatasi dosa manusia dan
mempersiapkan manusia untuk menerima wahyu khusus.
o
Untuk membuat supaya manusia tidak dapat
berdalih bahwa manusia tersebut tidak mendapatkan penyataa apa-apa tentang
karya Allah dalam alam semesta, sejarah, dan hati manusia.
o
Memberikan pengetahuan tentang
keteraturan penciptaan, pemeliharaan Allah dalam alam dan sejarah dan kemampuan
dan kehidupan moral tertentu dari manusia.
o
Memberikan pengetahuan tentang
manifestasi kuasa, kekekalan, dan kemuliaan Allah.[18]
Bagi golongan Liberal, pada umumnya
sangat menekankan pentingnya wahyu umum sehingga golongan ini secara tidak
langsung menolak atau mengurangi wahyu khusus. Berbeda dengan orthodox dan
injili begitu kuat menekankan wahyu khusus, namun seringkali melupakan bahwa
pada wahyu umumpun Allah menyatakan karya-Nya.
§ Wahyu
khusus
Wahyu khusus adalah wahyu yang diberikan
Allah melalui karya penebusan Yesus Kristus dalam sejarah dan wahyu ini hanya
terdapat di dalam Alkitab. Adapun perbedaan antara wahyu umum dan wahyu khusus
adalah:
Dalam hal isi, Wahyu khusus berpusat
pada karya penyelamatan Allah yang mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus,
sedangkan isi dari wahyu umum adalah memperlihatkan pekerjaan tangan Tuhan
dalam dunia melalui penyataan kuasa-Nya.
Dalam hal sarana, wahyu khusus
menggunakan alam, sejarah, dan juga firman Allah untuk memberitakan tentang apa
yang dikerjakan Yesus Kristus, sedangkan wahyu umum menggunakan pemeliharaan
Allah secara umum kepada dunia ini melalui
alam dan sejarah.
Sedangkan
persamaan wahyu umum dan wahyu khusus adalah:
Sama-sama berasal dari Allah yang secara
aktif menyatakan diri-Nya.
Tujuan dari setiap bentuk penyataan
tersebut ialah supaya manusia belajar mengenal Allah menaati dan melayani-Nya.
Hasilnya sama yaitu untuk mdengenal
Allah dan bertumbuh di dalam pengenalan dan kasih kepada-Nya.
Wahyu Allah yang telah diberikan secara
khusus mempunyai hubungan dengan perkataan dan aksi. Perkataan mencakup nubuat,
surat (para rasul), atau penjelasan, tentang ajaran tertentu; sedangkan aksi
mencakup kisah, atau sejarah tertentu. Dapat disimpulkan bahwa, wahyu umum pun
terdapat di dalam wahyu khusus dan keduanya adalah informasi yang diberikan
Allah melalui berbagai bentuk dan berada dalam konteks budaya tertentu.
Di sisi lain, tujuan Allah menyatakan
diri,karya, dan firman-Nya bukanlah untuk memberikan informasi saja, tetapi
juga untuk mengembalikan suatu struktur persekutuan Allah dengan manusia yang
telah menjadi rusak karena dosa. Dengan kata lain, wahyu Allah yang utama
adalah wahyu yang mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Namun, hal yang tidak
boleh diabaikan, yaiu bahwa wahyu Allah melalui tindakan penyelamatan dan firman-Nya
juga mencakup fakta bahwa tindakan dan firman-Nya tersebut telah tertulis ke
dalam catatan yang tetap, yaitu menjadi perjanjian lama.[19]
§ Wahyu
dan rasio
Rasio dikategorikan sebagai kapasitas
mental untuk penalaran maupun sebagai sebuah motif, premis, atau dasar
argument, sedangkan wahyu itu sendiri adalah bentuk penyataan diri-Nya kepada
manusia melalui bermacam-macam cara. Adapun wahyu dan rasio dipisahkan pada
zaman pencerahan, ketika banyak filsuf yang menekankan bahwa satu-satunya
kebenaran yang absolut hanyalah kebenaran yang diperoleh melalui rasio.
Akibatnya, kemudian muncul golongan rasionalis yang cenderung memisahkan wahyu
dari peristiwa-peristiwa sejarah tertentu.
Dari Alkitab, dapat diketahui bahwa
rasio manusia berada di bawah kuasa dosa, dibutakan oleh iblis dan terisi
dengan hal-hal yang sia-sia. Tetapi secara positif rasio tetap berfungsi untuk
menanyakan mengapa terdapat fenomena
supranatural atau misteri religius, dan rasio juga dapat berfungsi untuk
mengintegrasikan fenomena atau misteri tersebtu dengan sejumlah misteri alami
lainnya.[20]
[1] Sejarah penggunaan istilah theologia di dalam
E. Farley, Theologia: The fragmentation and Unity of Theoligical Education
(Philadelphia: Fortress, 1983).
[2]
Menurut B.B. Warfield pada tahun 1851-1921 dari Princeton.
[3]
Defenisi menurut W.G.T. Sheddguru besar teologi sistematika di Union
Theological Seminary antara 1874-1890.
[4]
Definisi teologi menurut Paul Tilich tahun 1886-1965, teologi liberal.
[5]Gerarhd. F. Hassel, Teologi Perjnjian Lama, (Malang:
Penerbit gadum Mas, 1992), hlm.113-127.
[6]B.B.
warfield, teologi sistematik,
(malang: Gandum Mas, 1984), hlm. 83.
[7]
Penegasan oleh B.B Warfield, “The Task and Method of Sistematyc Theology”,
Studies in Theologiy, 95.
[8]
Ditulis oleh C. Brown, Christianity and and Western Thought (Downers Grove:
intervarsity, 1990).
[9]
Lih G.C. Stand, “Divine Substance in Tertullian”, JTS 14 (1963): 46-66
[10]Daniel Lucas lukito,M.th, pengantar teologia kristen, (Bandung:
Jl.Tamarin 16,Bandung 40116), hlm.32-36.
[11]Karl
Barth tentang wholly other (Allah berada dalam pengasingan), London: Oxford
University.1958.
[12]
Theology sains hal 9-10
[13]
Theological Science, hal 279-280.
[14]
Lih The Ground and the Grammar of theology, hal 119-122, 134, 156,157-162.
[15]
Systematic Theology, I: 4, 6-8, 68.
[16]
“Tthe symbolic theology of Paul Tillich” tahun 1964 hal 414.
[17]
Daniel Lucas Lukito, M.Th. Pengantar Teologi Kristen. Yayasan Kalam Hidup. Bandung,
hal 48-52.
[18]
Menurut M.J. Erickson “Christian
theology, hal 173).
[19]
Menurut L. Berkhof hal 128 “Allah menyatakan diri kepada bangsa Israel dalam
sejarah”.
[20]
Daniel Lucas Lukito “Pengantar Teologi Kristen”
1960 hal 59-62

Komentar
Posting Komentar